Dari tanah Sumba tumbuh biji kakao dengan cita rasa yang khas. Dari tanah yang sama, lahir pula kata-kata yang memperkaya perjalanan sastra Indonesia.
Ghaura merupakan cokelat hitam dengan kandungan kakao 60% yang dibuat menggunakan biji kakao pilihan dari Sumba Barat. Bersama para petani lokal, pengembangan kakao ini telah melalui perjalanan panjang untuk menghasilkan biji berkualitas dengan karakter rasa buah yang khas.
Lahan Sumba yang kering dan berbatu, tanahnya yang unik, serta iklimnya yang panas turut membentuk karakter biji kakao tersebut. Melalui hasil bumi ini, Ghaura tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga membawa cerita tentang tanah, petani, dan masyarakat yang merawatnya.
Melalui kemasan ini, kita juga diajak mengenal Umbu Landu Paranggi, penyair asal Sumba yang meninggalkan jejak penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Salah satu karyanya adalah puisi berjudul “Solitude”, yang menghadirkan suasana tentang waktu, jarak, kenangan, dan bayang-bayang seseorang yang terus hidup dalam ingatan.
Penggalan puisi “Solitude”
dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh menggema
menggigilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian— Umbu Landu Paranggi
Cobalah membaca penggalan puisi tersebut secara perlahan. Rasakan bagaimana pilihan kata dan iramanya membawa kita memasuki suasana rindu, kenangan, dan kesunyian.
Melalui Ghaura, kekayaan Sumba tidak hanya dapat dinikmati melalui cita rasa kakaonya, tetapi juga dikenali melalui karya sastra yang lahir dari putra daerahnya. Sebuah produk lokal dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan alam, manusia, bahasa, dan sastra yang membentuk identitas suatu daerah.
Dari Sumba cita rasa dan kata bertemu dalam satu cerita.
Lahan Sumba yang kering dan berbatuFrom the land of Sumba grow cacao beans with a distinctive taste. From the same land also come words that enrich the journey of Indonesian literature.
Ghaura is a 60% dark chocolate made using selected cacao beans from West Sumba. Together with local farmers, the development of this cacao has gone through a long journey to produce quality beans with a distinctive fruity character.
Sumba’s dry and rocky land, its unique soil, and its hot climate all help shape the character of these cacao beans. Through this harvest, Ghaura offers not only flavor, but also a story about the land, the farmers, and the community that cares for it.
Through this package, we are also invited to know Umbu Landu Paranggi, a poet from Sumba who left an important mark on the development of Indonesian literature. One of his works is a poem titled “Solitude”, which evokes an atmosphere of time, distance, memory, and the shadow of someone who continues to live in remembrance.
Excerpt from the poem “Solitude”
in the seconds, in the grasp of age
your voice waves and echoes far away
making fingers tremble, the heart drawn to memory
shadows tangle your traces, striking the present— Umbu Landu Paranggi
Try reading the excerpt slowly. Feel how its word choices and rhythm draw us into an atmosphere of longing, memory, and solitude.
Through Ghaura, the richness of Sumba can be enjoyed not only through the taste of its cacao, but also recognized through literature born from one of its own people. A local product can become a space to introduce the nature, people, language, and literature that shape a region’s identity.
From Sumba, flavor and words meet in one story.
