Belajar Bersama KEMAS AKSARA — Pembelajaran dari Kemasan — Seri 1
Stik Pakcoi Sume’a: Belajar Bahasa dari Sebuah Kemasan
Menelusuri sembilan pokok pembelajaran kebahasaan melalui pembenahan kemasan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dari “Stick Pakcoy” Menjadi “Stik Pakcoi”
Pada kemasan lama, nama produk ditulis “Stick Pakcoy”. Pada kemasan baru, penulisan tersebut disesuaikan menjadi “Stik Pakcoi”.
Perubahan ini dilakukan karena “stik” dan “pakcoi” merupakan bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Kata stick dalam bahasa Inggris diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “stik”. Sementara itu, penulisan “pakcoi” digunakan untuk merujuk pada sayuran berdaun yang menjadi bahan utama produk.
Dengan perubahan ini, nama produk tetap terdengar modern, tetapi lebih tertib secara kebahasaan dan lebih sesuai untuk digunakan pada kemasan berbahasa Indonesia.
Perbandingan Kebahasaan
Yang Dipelajari
Bahasa Indonesia dapat tetap menarik, modern, dan komunikatif tanpa menggunakan istilah asing secara berlebihan.
Nama Varian Disesuaikan dengan Bahasa Indonesia
Varian rasa juga menjadi bagian penting dari bahasa kemasan. Pada kemasan lama, beberapa istilah masih menggunakan bentuk asing, seperti original dan BBQ. Pada kemasan baru, istilah tersebut disesuaikan dengan bentuk baku bahasa Indonesia, yaitu “orisinal” dan “barbeku”.
Penyesuaian ini menunjukkan bahwa setiap kata pada kemasan memiliki peran. Kata yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga menjadi wajah bahasa Indonesia di ruang publik komersial.
Penyesuaian Kata
Yang Dipelajari
Sebelum dicetak pada kemasan, penulisan kata sebaiknya diperiksa kembali dengan mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan begitu, kemasan menjadi lebih tertib, konsisten, dan mudah dipahami.
Informasi Teknis Produk Ditulis Sesuai Kaidah
Selain nama produk dan varian rasa, informasi teknis pada kemasan juga perlu diperhatikan. Informasi seperti berat bersih, tanggal produksi, kode produksi, keterangan “baik dikonsumsi sebelum”, komposisi, dan alamat produsen harus ditulis secara jelas, rapi, dan konsisten.
Pada kemasan baru, informasi teknis ditata ulang agar lebih mudah dibaca. Penggunaan tanda baca dan huruf kapital disesuaikan dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Lambang satuan ditulis sesuai ketentuan satuan pengukuran, sedangkan susunan informasi ditata secara konsisten.
Contoh Penulisan Lambang Satuan
Yang Dipelajari
Pembenahan bahasa tidak hanya menyangkut penulisan nama produk, tetapi juga perincian yang sering dibaca konsumen.
Slogan Ditulis Sesuai Kaidah dan Tetap Komunikatif
Slogan pada kemasan berfungsi sebagai ungkapan promosi yang mudah diingat. Namun, kalimat promosi tetap perlu mengikuti kaidah bahasa Indonesia.
Pada kemasan baru, slogan ditulis “Stik Renyah, Enak, dan Halal.” Kata “dan” digunakan sebagai pengganti simbol “&” agar penulisan slogan lebih konsisten dengan penggunaan bahasa Indonesia pada kemasan. Penyesuaian ini mendukung penyajian informasi yang tertib dan profesional.
Yang Dipelajari
Promosi yang menarik tetap dapat ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bahasa Daerah Diberi Ruang
KEMAS AKSARA tidak hanya menata bahasa Indonesia, tetapi juga memberi ruang bagi bahasa daerah. Pada kemasan Stik Pakcoi Sume’a, ditambahkan kutipan dalam bahasa Kemak Dirubati, salah satu bahasa daerah yang hidup di Pulau Timor.
“Ami la getu utalau da asi lara”
Arti: Kami pergi mengambil sayur di dalam kebun.
Kehadiran bahasa daerah pada kemasan membuat konsumen tidak hanya mengenal produk, tetapi juga mengenal bahasa daerah yang mencerminkan identitas dan memuat pengetahuan lokal.
Yang Dipelajari
Bahasa daerah tidak hanya perlu didokumentasikan, tetapi juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada kemasan produk UMKM.
Cerita Produk Menjadi Lebih Informatif
Kemasan baru juga memuat cerita produk yang lebih komunikatif. Cerita ini menjelaskan asal produk, bahan utama, proses pengolahan, serta nilai lokal yang ingin diperkenalkan oleh pelaku UMKM.
Melalui cerita produk, konsumen tidak hanya mengetahui apa yang mereka beli, tetapi juga memahami kisah di balik produk tersebut. Cerita yang baik dapat memperkuat identitas produk, membangun kedekatan dengan konsumen, dan meningkatkan nilai jual.
Yang Dipelajari
Bahasa pada kemasan tidak hanya menjelaskan produk, tetapi juga membangun hubungan antara produk, pelaku UMKM, dan konsumen.
Kode Respons Cepat Menjadi Pintu Belajar
Pada kemasan baru, KEMAS AKSARA menambahkan kode respons cepat yang menghubungkan konsumen ke laman digital. Melalui laman tersebut, konsumen dapat membaca cerita produk secara lebih lengkap, mengenal istilah bahasa daerah, memahami proses produksi, dan mempelajari informasi kebahasaan lain yang berkaitan dengan produk.
Kode respons cepat membuat kemasan fisik terhubung dengan pengalaman belajar digital. Dengan sekali memindai kode respons cepat, konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap tanpa membuat kemasan menjadi terlalu padat.
Diagram Alur Akses Kode Respons Cepat
Yang Dipelajari
Teknologi dapat memudahkan masyarakat mengakses informasi kebahasaan dan membuat pembelajaran bahasa lebih menarik.
Bahasa Asing Digunakan Secara Proporsional
KEMAS AKSARA tidak menolak penggunaan bahasa asing. Namun, bahasa asing perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menggeser fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa utama pada kemasan.
Pada tampilan luar kemasan, bahasa Indonesia diutamakan. Sementara itu, bahasa asing dapat digunakan sebagai pendamping pada laman digital, terutama untuk membantu wisatawan atau konsumen dari luar Indonesia memahami cerita produk.
Yang Dipelajari
Menguasai bahasa asing bukan berarti mengabaikan bahasa Indonesia. Bahasa asing dapat digunakan secara tepat untuk menjangkau khalayak yang lebih luas.
Kemasan Menjadi Media Literasi Bahasa
Melalui pembenahan kemasan Stik Pakcoi Sume’a, kita dapat melihat bahwa kemasan dapat menjadi media pembelajaran yang sederhana, tetapi berdampak. Konsumen dapat mempelajari bentuk kata baku, mengenal bahasa daerah, memahami fungsi kode respons cepat, dan melihat bagaimana bahasa bekerja dalam ruang komersial.
Empat Karakteristik Ruang Belajar KEMAS AKSARA
Informatif
Menyampaikan informasi produk secara jelas dan tepat.
Edukatif
Mengajarkan kaidah bahasa Indonesia, kosakata bahasa daerah, dan istilah yang tepat.
Komunikatif
Membantu pelaku UMKM menyampaikan informasi produk kepada konsumen secara efektif.
Bermakna
Menghubungkan produk fisik dengan cerita, identitas, dan bahasa daerah.
Kesimpulan
Melalui Stik Pakcoi Sume’a, KEMAS AKSARA menunjukkan bahwa pembenahan kemasan tidak hanya berkaitan dengan desain visual. Setiap perubahan bahasa memiliki makna: memartabatkan bahasa Indonesia, menghadirkan bahasa daerah, dan memanfaatkan teknologi sebagai jembatan literasi.
Dari satu kemasan, kita dapat belajar bahwa bahasa hidup di mana saja, termasuk pada produk UMKM yang kita lihat, beli, dan nikmati sehari-hari.
“Dikemas dengan cinta, diceritakan lewat bahasa.”
Learn with KEMAS AKSARA — Learning from Packaging — Series 1
Stik Pakcoi Sume’a: Learning Language from a Package
Exploring nine language learning points through improvements to the packaging of products from micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in East Nusa Tenggara (NTT).
From “Stick Pakcoy” to “Stik Pakcoi”
On the old packaging, the product name was written “Stick Pakcoy”. On the new packaging, that spelling was adjusted to “Stik Pakcoi”.
The change was made because “stik” and “pakcoi” are the forms that match standard Indonesian references. The word “stick” comes from English, but its Indonesian loan form is “stik”. Meanwhile, the spelling “pakcoi” is used to refer to the leafy vegetable that serves as the product’s main ingredient.
With this change, the product name still sounds modern, yet it is more linguistically orderly and better suited to Indonesian-language packaging.
Language Comparison
What We Learned
Indonesian can stay appealing, modern, and communicative without leaning excessively on foreign terms.
Variant Names Adapted to Standard Indonesian
Flavour variants are also an important part of packaging language. On the old packaging, some terms still appeared in foreign forms, such as Original and BBQ. On the new packaging, those terms were adjusted into their Indonesian forms: Orisinal and Barbeku.
This adjustment shows that every word on a package plays a role. The words used do not only carry information; they also become the face of Indonesian in commercial public spaces.
Word Adjustments
What We Learned
Before being printed on packaging, words are best rechecked against a proper reference, one of them the KBBI, the official dictionary of Indonesian. That way, packaging becomes more orderly, consistent, and easy to understand.
Technical Product Information Written by the Rules
Beyond the product name and flavour variants, the technical information on a package also deserves attention. Details such as net weight, production date, production code, best-before date, ingredients, and producer address must be written clearly, neatly, and consistently.
On the new packaging, the technical information was rearranged to be easier to read. Punctuation and capitalisation were aligned with Indonesian spelling rules. Unit symbols follow measurement conventions, while the information is arranged consistently.
Example of Unit Symbol Notation
What We Learned
Language improvement is not only about the wording of a product name, but also the details consumers read most often.
A Tagline Made More Orderly and Communicative
A tagline on packaging works as a promotional line that is easy to remember. Even so, promotional wording still needs to follow Indonesian language rules.
On the new packaging, the slogan was written as “Stik Renyah, Enak, dan Halal.” Using the word “dan” in place of the “&” symbol sits better with the register of Indonesian used on packaging. The change is simple, yet it matters in making the packaging feel more orderly and professional.
What We Learned
Appealing promotion can still be written in good and correct Indonesian.
Regional Languages Given Room
KEMAS AKSARA does not only put Indonesian in order; it also gives room to regional languages. On the Stik Pakcoi Sume’a packaging, a quote in the Kemak Dirubati language was added, one of the living regional languages of Timor Island.
“Ami la getu utalau da asi lara”
Meaning: We go to fetch vegetables in the garden.
The presence of a regional language on packaging lets consumers not only get to know the product, but also come into contact with a local language that carries identity and knowledge.
What We Learned
Regional languages do not only need to be archived; they also need to be present in everyday spaces, including on MSME product packaging.
Product Stories Become More Informative
The new packaging also carries a more communicative product story. It explains where the product comes from, its main ingredients, how it is processed, and the local values the MSME wants to bring forward.
Through the product story, consumers not only know what they are buying, but also understand the story behind it. A good story can strengthen product identity, build closeness with consumers, and lift selling value.
What We Learned
Language on packaging does not only explain the product; it also builds a relationship between the product, the MSME producer, and the consumer.
The QR Code Becomes a Doorway to Learning
On the new packaging, KEMAS AKSARA added a QR Code that connects consumers to a digital page. Through that page, consumers can read the product story in fuller detail, get to know regional language terms, understand the production process, and study other language-related information tied to the product.
The QR Code links the physical package with a digital learning experience. With a single scan, consumers gain richer information without making the packaging feel overcrowded.
QR Code Access Flow
What We Learned
Technology can help language feel closer, easier to reach, and more engaging for the public.
Foreign Language Used Proportionally
KEMAS AKSARA does not reject the use of foreign languages. Even so, a foreign language needs to be placed proportionally so that it does not displace Indonesian as the primary language on packaging.
On the outer face of the package, Indonesian comes first. A foreign language, meanwhile, can serve as a companion on the digital page, especially to help travellers or consumers from outside Indonesia understand the product story.
What We Learned
Mastering a foreign language does not mean neglecting Indonesian. A foreign language can be used precisely, as a bridge to a wider audience.
Packaging Becomes a Medium of Language Literacy
From the changes to Stik Pakcoi Sume’a, we can see that packaging can be a simple yet meaningful learning medium. Consumers can learn standard word forms, get to know a regional language, understand what a QR Code is for, and see how language works in commercial spaces.
Four Characteristics of the KEMAS AKSARA Learning Space
Informative
Delivers product information clearly and precisely.
Educational
Teaches Indonesian language rules, regional language vocabulary, and precise terminology.
Communicative
Helps MSME producers communicate product information effectively to consumers.
Meaningful
Connects the physical product with story, identity, and local language.
Conclusion
Through Stik Pakcoi Sume’a, KEMAS AKSARA demonstrates that packaging improvement is not just about visual design. Every language change carries meaning: dignifying Indonesian, presenting regional languages, and leveraging technology as a literacy bridge.
From a single package, we learn that language lives everywhere, including on the MSME products we see, buy, and enjoy every day.
“Packaged with love, told through language.”
